keindahan pada saat Musim Salju di Hida Takayama

 Sore ini juga kami berdua segera mengeksplorasi Takayama. Saya suka dengan kota itu. Takayama yang sederhana, tidak terlalu ramai, tidak terlihat kepadatan kemudian lintas, apalagi macet, tidak timbul hingar bingar klakson. Semua tenang di sini, waktu seolah melambat dan ego menikmatinya. Hida Kokubunji Temple, dibangun sekitar tahun 746 oleh maharaja Shomu, dibangun sama dengan tempat bagi berdoa bagi perdamaian ataupun kemakmuran bangsa.


Mata saya tertuju kepada pohon yang sedang rontok, tinggal dahannya saja yang mongering, namun pohon itu terlihat sangat jelita karena dibalut oleh salju yang cukup tebal. Ketika saya mendekat saya tau jika pohon ini adalah tanaman Ginko yang sudah berusia 1200 tahun. Di sebelahnya berdiri balai utama, kuil utama ini memiliki struktur yang cukup tua karena berasal dari abad ke-16, dan tiga pagoda disekitarnya baru dibangun pada tahun 1821.

Tiba-tiba aura magis terasa begitu aku rada kuil utama. Beberapa pengunjung dari etnis Asia memasuki kuil utama, membunyikan lonceng beberapa kali kemudian berdoa, awalnya saya tidak hayati mengapa mereka harus membunyikan lonceng terlebih dahulu ketika hendak berdoa, beberapa diwaktu kemudian saya mendapatkan jawabannya dari oknum bapak yang sedang melakukan perjalanan. Katanya agar alam semesta mendengarkan yang kite-kite panjatkan dalam doa-doa kita-kita kepada sang pencipta.

Sarubobo

Hida Takayama memiliki maskot yang diberi merek Sarubobo. Sarubobo adalah boneka tanpa wajah yang dikenal secara umum sebagai Happy Monkey Doll. Saru didalam bahasa Jepang berarti monyet dan juga Bobo adalah bayi dalam dialek Takayama. Menurut cerita yang beredar kenapa maskot ini membentuk penting di Takayama karena Sarubobo dikaitkan dengan 3 keademan unggul yakni Perlindungan dari hal-hal buruk, Perlindungan untuk memiliki rumah serta keluarga yang bahagia, serta perlindungan saat kelahiran.

Shutterstock Hida Takayama memiliki maskot yang diberi nama Sarubobo. Sarubobo adalah boneka tanpa wajah yang dikenal secara biasa serupa Happy Monkey Doll.
Konon Sarubobo dibuat oleh nenek untuk cucu mereka sebagai boneka pelindung, menurutnya boneka ini bakal selalu menjaga anak perempuan agar selalu berbahagia, karena ini kemudian Sarubobo diberikan juga pada saat pernikahan, dengan jurusan biar pernikahan tersebut menjadi pernikahan yang baik. Boneka ini umumnya berwarna merah tanpa memiliki karakter wajah, salah satu penyebabnya kenapa tidak memiliki fitur wajah adalah agar si pemilik dapat membayangkan bahwa saat orang-orang itu bahagia Sarubobo akan turut bahagia, waktu mereka sedih Sarubobo bakal turut bersedih pula.

Sarubobo cuma dapat dijumpai di Takayama, dan saat ini telah menjadi souvenir yang popular untuk para pengunjung. Selain warna merah Sarubobo juga muncul dalam warna lainnya dengan definisi yang berbeda. andai saja ingin membeli, sesuaikan dengan model kesukaan kita, seolah-olah misalnya: Biru untuk keberuntungan dalam belajar dan bekerja, merah muda untuk keberuntungan cinta, hijau untuk keberuntungan dalam kesehatan. sedang kuning untuk keberuntungan didalam uang dan hitam untuk keberuntungan dalam menghapus nasib buruk.

Hida No Sato

Hida Folk Village atau Hida No Sato adalah perkampungan yang sudah amatlah tua, dan merupakan perkampungan penduduk asli provinsi Hida. Tidak kurang 30 rumah penduduk dilestarikan, dan sekarang tempat itu dikenal juga dengan sebutan open air museum.  Rumah-rumah tersebut dibangun selama periode Edo kisaran tahun 1603 – 1867. Tempat ini dibuka untuk umum pada tahun 1971.

Suasana legal tetap dipertahankan rumah-rumah kepala desa, gudang bahan makanan dan rumah-rumah pertanian dibiarkan tetap seperti aslinya. barisan rumah didominasi kayu yang terdapat ikatan disetiap sambungannya, atapnya sendiri terbuat dari elemen jerami yang dibuat segitiga curam dan tinggi kemudian oleh populasi setempat dikenal dengan sebutan Gassho karena genteng tersebut menyerupai sepasangan tangan yang sedang bergabung dalam doa.

Festival cahaya hida folk hanya dilakukan satu hari saja. Saat winter, hajatan cahaya ini buka lebih lama yaitu hingga pukul 21.00, lazimnya hanya buka hingga pukul 17.00 dan festival cahaya baru akan dimulai dijam 17.30 waktu setempat.

Untuk dapat menyaksikan festival, kami terpaksa membayar 300 yen, lebih terjangkau dari masa biasa yang memungut bayaran sebesar 700 yen. situasi pada malam  hari berasa begitu indah. Dalam cahaya lampu warn-warni, kami seolah dibawa ke suasana ketika perkampungan ini masih giat. Keindahan tersebut ditambah dengan dominasi warna putih yang menutupi setiap jalan setapak, atap rumah bahkan danau pun membeku.

Beberapa rumah dibuka agar pengunjung dapat melihat kedalam, pada kebanyakan rumah-rumah tersebut berlantai kayu dan ditengah daerah terdapat perapian yang langsung beralaskan tanah, perapian itu difungsikan selain sejenis tungku memasak juga difungsikan sebagai pemanas saat musim dingin tiba. Sejarah kehidupan abad lalu terpapar disini, kegigihan warga membangun desanya terlukis dari setiap sudut lahan, sehingga tidak mengherankan andaikan Hida No Sato diakui sebagai World Heritage oleh Unesco.

Morning Market

Ada 2 pasar pagi yang dibuka berbagai pagi di Takayama, Jinya-Mae market dan Miyagawa market, keduanya buka dimulai pukul 07.00 hingga siang hari disaat winter.  normalnya turis menyempatkan mengunjungi pasar-pasar ini untuk membeli sayuran segar hasil pertanian setempat atau mencari bunga atau kerajinan tangan.

Di salah 1 perempatan Jinya-Mae Market tampil beberapa becak sedangkan parkir, becak ini diperuntukkan bagi wisatawan. Becak yang ditarik oleh tenaga manusia ini membentuk atraksi yang menarik karena sekarang jumlahnya tinggal sedikit,  selimut yang lumayan menghangatkan penumpang. bagi memakai fasilitas ini penumpang memang membayar cukup mahal yaitu 5000 yen atau selevel dengan Rp595.000 untuk 30 menit.

Dari Jinya-Mae kita-kita menuju Miyagawa morning market, di tempat ini yang dijual lebih beragam, distart dari seafood kering dan basah hingga kios-kios penjual souvenir yang berada di sisi sungai Miyagawa. Menjelang siang para ibu sibuk membersihkan salju dari aspal serta teras toko mereka. Dari Miyagiwa river kami dapat melihat bagaimana sungai tersebut membeku maupun rumah rumah penduduk yang tertutup salju, saat musim semi tiba dari sungai ini kita dapat menyaksikan keindahan Cherry Blossom.

Kota Tua 


Kota tua Takayama itu dibangun pada saat pemerintahan Edo di tahun 1600 – 1868 tatkala kota berkembang menjadi kota perdagangan. Jadi, tidak mengherankan pasti jika sebagian dari rumah-rumah yang ada dilorong-lorong kota tua ini befungsi sebagai toko.

Di sepanjang lorong lorong tersebut kita-kita akan menemukan deretan rumah-rumah yang diubah menjadi museum, kedai kopi, tempat pembuatan sake. Beberapa di antaranya sudah menjalankan bisnis turun-temurun dari beberapa generasi. Keindahan ini meredup bersama tenggelamnya sang mentari, terlihat hanya beberapa yang masih bergeliat.

Posted in:

0 komentar for "keindahan pada saat Musim Salju di Hida Takayama"

Leave a reply