Uniknya Hiu Paus di Kwatisore

menuju lokasi  Kwatisore, perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Papua, timnas Tempo (penulis Wahyuana Wardoyo dan fotografer Rully Kesuma) bertemu hiu paus dalam perjalanan dalam Oktober setelah itu. Ini kesempatan yang jarang ditemukan di tempat lain. Juga, timbul berbagai keunikan hiu paus di Kwatisore yang masih jadi pertanyaan.

Sejak 2012, halaman Nasional Teluk Cendrawasih bekerja sama dengan World Wide Fund Indonesia memasang yang mengasih arahan radio frequency identification (RFID tag) maupun satelit (satellite tag). Dengan tag ini, peneliti dapat mengamati pola migrasi dan juga perilaku tiap-tiap hiu. “Berdasar hasil survei kami, total nimbul 70 hiu paus yang ditemukan di sekitar Kwatisore. pemeriksaan selanjutnya, 50 ekor sudah dipasang penanda RFID sejak Juni 2012, 14 ekor dipasang penunjuk satelit sejak Mei 2011, dan delapan ekor lagi dipasangi penanda satelit pada April 2013,” ujar Beny Ahadian Noor, kepala proyek WWF-Indonesia untuk Teluk Cendrawasih.

Hasilnya? “Beberapa burit diketahui bergerak hingga Donsol, Filipina. Selama dua minggu, mereka berenang pulang-pergi didalam kedalaman sekitar 70 meter. Jarak Donsol-Kwatisore sekitar 2.500 kilometer. Jika mereka berenang pulang-pergi selama dua pekan, berarti sehari rata-rata mereka berenang sekitar 350 kilometer. Belum diketahui kenapa mereka bermain begitu jauh," orang ini menjelaskan.

sedangkan ini, pemeriksaan masih terus-terusan berlangsung dan masih memerlukan waktu untuk menemukan jawaban berbagai pertanyaan. Di antara pertanyaan ini adalah, kenapa hanya ditemukan dua betina di Kwatisore. Padahal, biasanya, jumlah betina didalam sekumpulan satwa liar cenderung lebih banyaknya dari jantan. Di berbagai tempat, betina juga tidak pernah mau muncul di permukaan, tetapi kenapa mahluk-mahluk itu muncul di Kwatisore? Kenapa yang datang ke sini hanya yang tanggung-tanggung, ke mana mereka yang dewasa? Apakah mereka ke Kwatisore hanya mencari makan, ataukah menetap? Di mana mahluk-mahluk itu kawin, dan bagaimana bentuk anaknya?

Sementara pengembara bekerja keras menyibak misteri hadirnya hiu paus di Kwatisore, sejak dua tahun lalu pelancong semakin ratusan juta mendatangi bagan-bagan Kwatisore untuk memperhatikan hewan langka itu. “Sebagian besar pelancong datang dengan kapal pesiar selam (diving liveboard),” ujar Casandra Tania, staf peneliti WWF-Indonesia yang terpusat pada hiu paus. (Baca Edisi khusus Surga Wisata Indonesia)

Sensasi Bertemu Hiu Paus di Kwatisore 

Di Kwatisore, perairan lahan Nasional Teluk Cendrawasih, Papua, tim waktu (penulis Wahyuana Wardoyo dan juru potret Rully Kesuma) bertemu hiu paus pada perjalanan didalam Oktober lalu. Mulut hiu paus menyeringai menakutkan. tapi badannya yang bergerak lambat membuatnya terlihat menggemaskan. “Sepanjang tidak mengganggu, sosok-sosok itu tidak berbahaya. Jangan menyelam dekat ekor, bisa kena kibasan ekor ketika mereka bergerak, juga jangan membawa bunyi-bunyian, pendengarannya sensitif,” ujar Bram Muaranaya yang sejak 2006 telah mengabdi wisata selam hiu paus di Kwatisore.

Peralatan selam pun disiapkan. “Ini penyelaman tanpa dasar, bouyancy (kemampuan mengapung) terpaksa bagus,” ucap Rudy Setiawan, dive master. Peringatan yang membentuk saya grogi. Biasa menyelam pada kedalaman 20-35 meter, kini harus menyelam di lautan dengan kedalaman 50-100 meter. Jantung saya berdegup.

Dengan backroll, saya turun dari kapal. Sialan. Arus laut rupanya sedangkan deras. setiap mengecek mendekat ke hiu paus, selalu terseret menjauh. dalam penyelaman kedua, situasi bertambah adem ayem. Saya menyelam didalam kedalaman 3 meter serta membuat pilihan berpegangan didalam salah satu pilar bagan. Posisi ini membentuk awak leluasa memotret dan mengamati gerak gerik ikan dari jarak dekat.

Kali ini ada empat ekor hiu paus--terbesar panjangnya 6 meter, sekecil-kecilnya tiga meter. menjiplak teori, anak hiu paus biasanya lahir berukuran 80 sentimeter dan juga setiap tahun rata-rata bertambah panjang 20 sentimeter. Saya perkirakan umur mereka antar 20 hingga 26 tahun.

Mulut hiu paus lebar dan mampu mengisap segala barang. Mendekatinya, hamba meletakkan kepalan tangan di samping mulut. Wow..., daya sedotnya luar biasa kuat. Apa saja materi di sekitar mulut akan diisap tanpa ampun. “Jika merasa yang terisap itu bukan makanannya, biasanya akan disemburkan lagi,” ujar Bram. melambung di atas ekornya, tinggi tubuh saya yang 1,68 sentimeter hanya seperempat dari badan hiu paus sebesar MetroMini ini. (Baca edisi khusus Surga Wisata Indonesia)


Posted in: , , , , , , , ,

0 komentar for " Uniknya Hiu Paus di Kwatisore"

Leave a reply